Lebih dari 44.000 Bitcoin (BTC) atau senilai Rp7 triliun ditokenisasi ke dalam jaringan Ethereum dengan smart contract yang ada dalam platform DeFi. Aktivitas ini meningkat sekitar 10 kali lipat sejak bulan Juni lalu dengan jumlah Bitcoin yang ditokenisasi hanya sekitar 5.000 BTC.

Percepatan aktivitas tokenisasi bitcoin ini sebagian besar dipicu banyaknya platform DeFi yang muncul. Selain itu, pertumbuhan aset kripto pada aplikasi desentralisasi atau dApps ini mencapai total Rp92 trilun. 

Total Value Locked atau Aset Total yang Terkunci pada masing-masing platform DeFi seperti Maker, Aave, dan Curve telah melampaui Rp14 triliun. Disusul oleh Synthetix, Compound, dan Yearn Finance.

Platform DeFi dengan Bitcoin Terbanyak

Selain itu, Bitcoin terbanyak pada platform DeFi tersebut ada di WBTC dengan total 28.800 BTC, disusul Curve Finance dan juga Maker. 

Pertumbuhan Platform DeFi

Disamping pertumbuhan DeFi yang sangat cepat, platform-platform ini juga memberikan banyak penawaran menarik seperti suku bunga yang signifikan dan juga pertukaran token atau aktivitas lainnya pada pasar. 

DeFi juga memfasilitasi penggunanya yang ingin memiliki BTC sekaligus juga mengizinkan pengguna lain untuk meminjamnya yang nantinya akan membuahkan semacam bunga atau hasil berupa hadiah token-token tertentu kepada pengguna pemegang BTC tersebut.

Fasilitas ini membuat DeFi digadang-gadang dapat memberikan pendapatan pasif (passive income) kepada para penggunanya. Hal ini mengingat suku bunga yang ditawarkan terbilang besar dan potensinya untuk tetap digunakan karena menguntungkan banyak pihak.

Di sisi lain, hal ini juga memiliki risiko pada potensi peretasan atau pun bug yang ada pada smart contract dari masing-masing platform.