Meskipun mengalami aksi jual terparah yang membuat seluruh pasar cedera, Bitcoin tetap menunjukan Kinerja terbaiknya sebagai aset selama setahun terakhir.

Bitcoin Mengungguli S&P

11 Maret 2020 adalah hari tersuram bagi dunia. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengumumkan kepada seluruh dunia mengenai adanya pandemi Covid-19. Dampaknya, gelombang kejutan datang bertubi-tubi ke pasar.

Kelas aset di seluruh dunia mulai terlihat hanya seperti setumpuk kartu. Ternyata tidak ada yang aman ketika melalui penjualan besar-besaran, bahkan emas sebagai tempat berlindung dari dahulu kala. 

Sementara itu, Bitcoin menunjukkan beberapa resistensi awalnya. Walau Bitcoin juga tidak bisa menghindari keadaan ini dengan ikut mengalami penurunan harga di bulan-bulan sebelumnya.

Hal ini sempat mengganggu narasi safe-haven yang banyak digembar-gemborkan pada Bitcoin, tetapi beberapa ahli bahkan tidak terkejut akan hal ini. Dikutip dalam LongHash, salah satu pendiri Coin Metrics, Nic Carter berpendapat:

“Sikap terburu-buru untuk melikuidasi, investor menjual aset dengan waktu jatuh tempo yang sedikit pada aset-aset jangka panjang. Hal ini dilakukan untuk menutup margin call atau pembayaran hipotek, atau juga pembayaran lainnya. Bitcoin cenderung menjadi salah satu aset likuid yang paling tidak terbebani dan sering tidak disimpan dalam cara yang hanya menguntungkan untuk pajak. Ini masuk akal ketika banyak investor yang berada di bawah tenakan melakukan pemotongan blok.”

Namun, selama 12 bulan terakhir, Bitcoin naik 31,50% sementara S&P turun -5,01%, meskipun terdapat paket stimulus sebesar $2Trilun.

Nilai Minyak Turun 65%

Jika kita berpikir S&P hanya satu-satunya yang mengalami kesulitan, pasar minyak sudah sejak tahun lalu mengalami kekacauan. Hal ini diperparah dengan krisis pandemi Covid-19 ini dan perang harga yang sedang berlangsung antara Rusia dan Arab Saudi.

Meskipun telah mencapai kesepakatan sementara, harga minyak tetap jatuh sebanyak 8,29% dan mengalami kerugian -65,41% dari 12 bulan lalu.

Emas Melonjak Naik

Meskipun data penelitian oleh Delphi Digital mengutip Bitcoin sebagai aset dengan kinerja terbaik dalam 12 bulan terakhir, emas masih menjadi pemenang terbaik dengan melonjak sebesar 38,24% sejak tahun lalu.

Hal ini tidak mengejutkan karena banyak investor masih mencari emas ketika datang ketidakpastian yang terjadi di pasar. Lonjakan ini juga dipengaruhi oleh tekanan pada pasokannya karena kilang-kilang terpaksa tutup karena pandemi ini.

Kinerja Bitcoin Masih yang Terbaik

Namun, jika melihat kenaikan bulanan, Bitcoin tetap melampaui emas dengan menunjukkan pemulisan besar-besaran sejak aksi jual lalu. Bitcoin berhasil naik kembali di 24,90% dari bulan lalu, sedangkan emas tetap berada di 15,69%.

Dengan banyaknya bullish pada Bitcoin menjelang peristiwa Halving sebagai aset yang kokoh, Mike Novogratz sebagai investor miliarder mengatakan bahwa ini lah waktunya Bitcoin membuktikan nilainya.

Ketika bank sentral di seluruh dunia mencetak lebih banyak uang dan inflasi tidak dapat dihindari, ia percaya Bitcoin akan memiliki nilai berlipat ganda pada akhir tahun ini dan bahkan mungkin mencapai All-Time-High baru.

Pendapat ini juga diperkokoh oleh CEO BitMEX, Arthur Hayes yang percaya harga mungkin akan jatuh di tengah ketidakpastian tetapi akan berada di sekitar $20.000 pada akhir 2020 nanti.